Senin, 26 Oktober 2015

ETIKA BISNIS SAP BAB 1 SAMPAI BAB 4

BAB I
DEFINISI ETIKA DAN BISNIS SEBAGAI SEBUAH PROFESI

            Etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu ethos yang berarti kebiasaan/ adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Secara historis kata bisnis berasal dari bahasa Inggirs business, dari kata dasar busy yang berarti ”sibuk” dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat.
            Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/ mitra kerja, pemegang saham, dan masyarakat.
            Beberapa indikator yang dapat dipakai untuk menyatakan bahwa seseorang atau perusahaan telah mengimplementasikan etika bisnis antara lain adalah:
1.     Indikator Etika Bisnis menurut ekonomi adalah apabila perusahaan atau pebisnis telah melakukan pengelolaan sumber daya bisnis dan sumber daya alam secara efisien tanpa merugikan masyarakat lain.
2.     Indikator Etika Bisnis menurut peraturan khusus yang berlaku. Berdasarkan indikator ini seseorang pelaku bisnis dikatakan beretika dalam bisnisnya apabila masing-masing pelaku bisnis mematuhi aturan-aturan khusus yang telah disepakati sebelumnya.
3.     Indikator Etika Bisnis menurut hukum. Berdasarkan indikator hukum seseorang atau suatu perusahaan dikatakan telah melaksanakan etika bisnis apabila seseorang pelaku bisnis atau suatu perusahaan telah mematuhi segala norma hukum yang berlaku dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.
4.     Indikator Etika Bisnis berdasarkan ajaran agama. Pelaku bisnis dianggap beretika bilamana dalam pelaksanaan bisnisnya senantiasa merujuk kepada nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.
5.     Indikator Etika Bisnis berdasarkan nilai budaya. Setiap pelaku bisnis baik secara individu maupun kelembagaan telah menyelenggarakan bisnisnya dengan mengakomodasi nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang ada disekitar operasi suatu perusahaan, daerah dan suatu bangsa.
6.     Indikator Etika Bisnis menurut masing-masing individu adalah apabila masing-masing pelaku bisnis bertindak jujur dan tidak mengorbankan integritas pribadinya.


BAB II
PRINSIP ETIKA DALAM BISNIS SERTA ETIKA DAN LINGKUNGAN

            Etika bisnis memiliki prinsip – prinsip yang harus ditempuh perusahaan oleh perusahaan untuk mencapai tujuannya dan harus dijadikan pedoman agar memiliki standar baku yang mencegah timbulnya ketimpangan dalam memandang etika moral sebagai standar kerja atau operasi perusahaan. Muslich (1998: 31-33) mengemukakan prinsip – prinsip etika bisnis sebagai berikut:
·       Prinsip Otonomi
            Prinsip otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Atau mengandung arti bahwa perusahaan secara bebas memiliki wewenang sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya dengan visi dan misi yang dimilikinya. Kebijakan yang diambil perusahaan harus diarahkan untuk pengembangan visi dan misi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran dan kesejahteraan karyawan dan komunitasnya.

·       Prinsip Kejujuran
            Kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam mendukung keberhasilan perusahaan. Kejujuran harus diarahkan pada semua pihak, baik internal maupun eksternal perusahaan. Jika prinsip kejujuran ini dapat dipegang teguh oleh perusahaan, maka akan dapat meningkatkan kepercayaan dari lingkungan perusahaan tersebut.Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
·       Prinsip Tidak Berniat Jahat
            Prinsip ini ada hubungan erat dengan prinsip kejujuran. Penerapan prinsip kejujuran yang ketat akan mampu meredam niat jahat perusahaan itu.

·       Prinsip Keadilan
            Perusahaan harus bersikap adil kepada pihak-pihak yang terkait dengan sistem bisnis. Contohnya, upah yang adil kepada karywan sesuai kontribusinya, pelayanan yang sama kepada konsumen, dan lain-lain,menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan. 

·       Prinsip Hormat pada Diri Sendiri
            Perlunya menjaga citra baik perusahaan tersebut melalui prinsip kejujuran, tidak berniat jahat dan prinsip keadilan.

            Berikut beberapa teori etika lingkungan, sebagai berikut:
1.     Teori Antroposentrime
            Antroposentrime adalah teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung atau tidak langung. 
            Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya. Hanya manusia yang mempunyai nilai dan mendapat perhatian. Segala sesuatu yang lain di alam semesta ini hanya akan mendapat nilai dan perhatian sejauh menunjang dan demi kepentingan manusia. 
            Oleh karenanya alam pun hanya dilihat sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya alat bagi pencapaian tujuan manusia. Alam tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri.

2.     Teori Ekosentrisme
            Ekosentrisme berkaitan dengan etika lingkungan yang lebih luas. Berbeda dengan biosentrisme yang hanya memusatkan pada etika pada biosentrisme, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun tidak. Karena secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain. Oleh karenanya, kewajiban dan tanggung jawab moral tidak hanya dibatasi pada makhluk hidup. Kewajiban dan tanggung jawab moral yang sama juga berlaku terhadap semua realitas ekologis. 

3.     Teori Egosentris
            Etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self).Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4). Inti dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan: “Bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri”.
            Dengan demikian, etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan dengan teori sosial liberal.

4.     Teori Biosentrisme
            Teori Biosentrisme mengagungkan nilai kehidupan yang ada pada ciptaan, sehingga komunitas moral tidak lagi dapat dibatasi hanya pada ruang lingkup manusia. Mencakup alam sebagai ciptaan sebagai satu kesatuan komunitas hidup (biotic community).
            Inti pemikiran biosentrisme adalah bahwa setiap ciptaan mempunyai nilai intrinsic dan keberadaannya memiliki relevansi moral. Setiap ciptaan (mahluk hidup) pantas mendapatkan keprihatinan dan tanggung jawab moral karena kehidupan merupakan inti pokok konsern moral.

5.     Etika Homosentris
            Etika homosentris mendasarkan diri pada kepentingan sebagian masyarakat. Etika ini mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan sosial dan pendekatan antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar masyarakat manusia.
            Etika homosentris sama dengan etika utilitarianisme, jadi, jika etika egosentris mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu tindakan itu pada tujuan dan akibat tindakan itu bagi individu, maka etika utilitarianisme ini menilai baik buruknya suatu tindakan itu berdasarkan pada tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak mungkin orang. Etika homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan universalisme etis. Disebut universalisme karena menekankan akibat baik yang berguna bagi sebanyak mungkin orang dan etis karena ia menekankan akibat yang baik. Disebut utilitarianisme karena ia menilai baik atau buruk suatu tindakan berdasarkan kegunaan atau manfaat dari tindakan tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).Seperti halnya etika egosentris, etika homosentris konsisten dengan asumsi pengetahuan mekanik. Baik alam mau pun masyarakat digambarkan dalam pengertian organis mekanis. Dalam masyarakat modern, setiap bagian yang dihubungkan secara organis dengan bagian lain. Yang berpengaruh pada bagian ini akan berpengaruh pada bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya, namun karena sifat uji yang utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada pengurasan berbagai sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan kebaikan masyarakat (J. Sudriyanto, 1990:16).

6.     Etika Ekosentris
            Etika ekosentris mendasarkan diri pada kosmos. Menurut ekosentris ini, lingkungan secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut aliran etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang paling mungkin sebagai alternative untuk memecahkan dilemma etis ekologis. Menurut ekosentrisme, hal yang paling penting adalah tetap bertahannya semua yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang sehat, seperti halnya manusia, semua benda kosmis memiliki tanggung jawab moralnya sendiri (J. Sudriyanto, 1992: 243).

7.     Etika Teosentrisme
            Teosentrisme merupakan teori etika lingkungan yang lebih memperhatikan lingkungan secara keseluruhan, yaitu hubungan antara manusia dengan lingkungan. Pada teosentrism, konsep etika dibatasi oleh agama (teosentrism) dalam mengatur hubungan manusia dengan lingkungan. Untuk di daerah Bali, konsep seperti ini sudah ditekankan dalam suatu kearifan lokal yang dikenal dengan Tri Hita Karana (THK), dimana dibahas hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan manusia dengan manusia (Pawongan) dan hubungan manusia dengan lingkungan (Palemahan).

8.     Teori Nikomakea
            Teori  Nikomakea (bahasa Inggris: 'Nicomachean Ethics'), atau Ta Ethika, adalah karya Aristoteles tentang kebajikan dan karakter moral yang memainkan peranan penting dalam mendefinisikan etika Aristoteles.
            Kesepuluh buku yang menjadi etika ini didasarkan pada catatan-catatan dari kuliah-kuliahnya di Lyceum dan disunting atau dipersembahkan kepada anak lelaki Aristoteles, Nikomakus.
            Teori  Nikomakea memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik untuk mengenali langkah terbaik yang perlu diambil. Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai eudaimonia, bila dipahami dengan tepat, akan menghasilkan perilaku yang baik.

9.     Zoosentrisme
            Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak – hak binatang, karenanya etika ini disebut juga etika pembebasan binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The Society for The Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih.

10.  Antroposentris
            Antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika. Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia.   

            Berikut adalah 9 Prinsip Etika di lingungan hidup, sebagai berikut:
1.     Prinsip Sikap Hormat Terhadap Alam (Respect For Nature)
            Manusia mempunyai kewajiban menghargai hak semua makhluk hidup untuk berada, hidup, tumbuh, dan berkembang secara alamiah sesuai dengan tujuan penciptanya. Untuk itu manusia perlu merawat, menjaga, melindungi, dan melestarikan alam beserta seluruh isinya serta tidak diperbolehkan merusak alam tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara moral.

2.     Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature)
            Sejatinya alam adalah milik kita bersama. Jika alam dihargai sebagai bernilai pada dirinya sendiri, maka rasa tanggung jawab akan muncul dengan sendirinya pada diri manusia.

3.     Prinsip Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity)
            Solidaritas kosmis pada hakekatnya adalah sikap solidaritas manusia dengan alam. Solidaritas kosmis berfungsi untuk mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kosmis, serta mendorong manusia untuk mengambil kebijakan yang pro alam dan tidak setuju terhadap tindakan yang merusak alam.

4.     Prinsip Kasih Saying Dan Kepedulian Terhadap Alam (Caring For Nature)
            Prinsip ini merupakan prinsip moral satu arah yang artinya tanpa mengharap balasan serta tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan alam.



5.     Prinsip Tidak Merugikan (No Harm)
            Prinsip ini merupakan prinsip tidak merugikan alam secara tidak perlu. Bentuk minimal berupa tidak perlu melakukan tindakan yang mrugikan atau mengancam eksistensi makhluk hidup lain di alam semesta.

6.     Prinsip Hidup Sederhana Dan Selaras Dengan Alam
            Prinsip ini menekankan pada nilai, kualitas, cara hidup, dan bukan kekayaan, sarana,standard material. Bukan rakus dan tamak mengumpulkan harta dan memiliki sebanyak-banyaknya,mengeksploitasi alam, tetapi yang lebih penting adalah mutu kehidupan yang baik. Prinsip moral hidup sederhana harus dapat diterim oleh semua pihak sebagai prinsip pola hidup yang baru agar kita dapat berhasil menyelamatkan lingkungan hidup.

7.     Prinsip Keadilan
            Prinsip keadilan sangat berbeda dengan prinsip-prinsip sebelumnya, Prinsip keadilan lebih ditekankan pada bagaimana manusia harus berperilaku adil terhadap yang lain dalam keterkaitan dengan alam semesta juga tentang sistem social yang harus diatur agar berdampak positif bagi kelestarian lingkungan hidup. Prinsip keadilan terutama berbicara tentang peluang dan akses yang sama bagi semua anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumbar daya alam, dan dalam ikut menikmati pemanfaatannya.

8.     Prinsip Demokrasi
            Demokrasi justru memberi tempat seluas-luasnya bagi perbedaan, keanekaragaman, dan pluralitas. Oleh karena itu setiap orang yang peduli dengan lingkungan adalah orang yang demokratis, sebaliknya orang yang demokratis sangat mungkin bahwa dia seorang pemperhati lingkungan. Pemperhati lingkungan dapat berupa multikulturalisme, diverivikasi pola tanam, diversivikasi pola makan, dan sebagainya.
9.     Prinsip Integrasi Moral
            Prinsip ini terutama ditujukan untuk pejabat, misalnya orang yang diberi kepercayaan untuk melakukan analisis mengenai dampak lingkungan merupakan orang-orang yang memiliki dedikasi moral yang tinggi karena diharapkan dapat menggunakan akses kepercayaan yang diberikan dalam melaksanakan tugasnya dan tidak merugikan ingkungan hidup fisik dan non fisik atau manusia


 BAB III
 MODEL ETIKA DALAM BISNS, SUMBER NILAI ETIKA DAN FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ETIKA DAN LINGKUNGAN


A.    Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan bisnisnya.

B.    Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum. Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam beraktivitas. Kedua, tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen dengan pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan, namun terkadang secara sengaja melanggar etika tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka, misalnya ingin melakukan efisiensi dan lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa aktivitas bisnis berada di luar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan moralitas.

C.    Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis yang diambilnya.

D.    Agama, Filosofi, Budaya dan Hukum
·       Agama
      Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan (wikipedia.com).
      Untuk memberikan batasan tentang makna agama memang agak sulit dan sangat subyektif. Karena pandangan orang terhadap agama berbeda-beda. Ada yang memandangnya sebagai suatu institusi yang diwahyukan oleh Tuhan kepada orang yang dipilihnya sebagai nabi atau rasulnya, dengan ketentuan-ketentuan yang telah pasti. Ada yang memandangnya sebagai hasil kebudayaan, hasil pemikiran manusia, dan ada pula yang memandangnya sebagai hasil dari pemikiran orang orang yang jenius, tetapi ada pula yang menganggapnya sebagai hasil lamunan, fantasi, ilustrasi (Syafa’at,1965).

·       Definisi Filosofi
      Filosofi adalah studi mengenai kebijaksanaan, dasar dasar pengetahuan, dan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang pandangan mengenai suatu kehidupan. Filosofi memberi pandangan dan menyatakan secara tidak langsung mengenai sistem kenyakinan dan kepercayaan. Setiap filosofi individu akan dikembangkan dan akan mempengaruhi prilaku dan sikap individu tersebut. Seseorang akan mengembangkan filosofinya melalui belajar dari hubungan interpersona, pengalaman pendidikan formal dan informal, keagamaan, budaya dan lingkungannya.
·       Definisi Budaya
      Budaya merupakan hasil budi, daya, dan karsa manusia. Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan social. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola piker masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan, dan ideology yang mereka anut.
      Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal daribahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Adapun menurut istilah Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa,dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat yang hanya ada padamanusia.Tak ada mahluk lain yang memiliki anugrah itu sehingga ia merupakan sesuatuyang agung dan mahal.

·       Definisi Hukum
      Hukum merupakan seluruh aturan tingkah laku berupa norma atau kaidah baik tertulis maupun tidak tertulis yang dapat mengatur tata tertip dalam masyarakat yang harus ditaati oleh setiap anggota masyarakatnya berdasarkan keyakinan dan kekuasaan hukum itu. Pengertian tersebut didasarkan pada penglihatan hukum dalam arti kata meteril, sedangkan dalam arti kata formal, hukum adalah kehendak ciptaan manusia berupa norma-norma yang berisikan petunjuk-petunjuk tingkah laku tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang dan dianjurkan untuk dilakukan. Oleh karena itu, hukum mengandung nilai-nilai keadilan, kegunaan, dan kepastian dalam masyarakat tempat hukum diciptakan.

E.     Leadership
             Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan – khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).

F.     Strategi dan Perfomasi
             Istilah strategi berasal dari bahasa Yunani strategia yang diartikan sebagai “the art of the general” atau seni seorang panglima yang biasanya digunakan dalam peperangan. Karl von Clausewitz (1780-1831) berpendapat bahwa pengertian strategi adalah pengetahuan tentang penggunaan pertempuran untuk memenangkan peperangan. Dalam abad modern ini, penggunaan istilah strategi tidak lagi terbatas pada konsep atau seni seorang panglima dalam peperangan, tetapi sudah digunakan secara luas hampir dalam semua bidang ilmu. Dalam pengertian umum, strategi adalah cara untuk mendapat kemenangan atau pencapaian tujuan.
             Performansi adalah cacatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu atau kegiatan selama suatu periode waktu tertentu. (Bernandin & Russell). Sedangkan yang dimaksud dengan penilaian performansi adalah suatu cara mengukur kontribusi-kontribusi dari individu-individu anggota organisasi kepada organisasinya. (Kae E. Chung & Leon C. Megginson).

G.    Karakter Individu
             Karakteristik individu adalah suatu sifat atau watak atau kepribadian yang khas dari seseorang. Baik buruk nya karakteristik setiap individu itu tergantung bagaimana seseorang itu mengaplikasikan dalam kehidupannya.

H.    Budaya Organisasi
             Dari beberapa pengertian dari ahli diatas maka dapat dikatakan bahawa budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi. Budaya organisasi juga berkaitan dengan bagaimana karyawan memahami karakteristik budaya suatu organisasi, dan tidak terkait dengan apakah karyawan menyukai karakteristik itu atau tidak. Budaya organisasi adalah suatu sikap deskriptif, bukan seperti kepuasan kerja yang lebih bersifat evaluatif.


 BAB IV
NORMA DAN ETKA DALAM PEMASARAN, PRODUKSI, MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN FINANSIAL

A.    Pasar dan Perlindungan Konsumen
            Dalam pendekatan pasar, terhadap perlindungan konsumen, keamanan konsumen dilihat sebagai produk yang paling efisien bila disediakan melalui mekanisme pasar bebas di mana penjual memberikan tanggapan terhadap permintaan konsumen. (Velazquez,2005: 317).  Dalam teori, konsumen yang menginginkan informasi bisa mencarinya di organisasi – organisasi seperti consumers union, yang berbisnis memperoleh dan menjual informasi. Dengan kata lain, mekanisme pasar perlu menciptakan pasar informasi konsumen jika itu yang diinginkan konsumen.( Velazquez,2005: 319).
            Adapun kewajiban konsumen untuk melindungi kepentingannya ataupun produsen yang melindungi kepentingan konsumen, sejumlah teori berbeda tentang tugas etis produsen telah dikembangkan , masing- masing menekankan keseimbangan yang berbeda antara kewajiban konsumen pada diri mereka sendiri dengan kewajiban produesn pada konsumen meliputi pandangan kontrak, pandangan “ due care” dan pandangan biaya sosial.

B.    Etika Iklan
            Dalam kitab Etika Pariwara Indonesia, disebutkan 3 asas utama periklanan, yaitu iklan dan pelaku periklanan harus:
1.     Jujur, benar, dan bertanggungjawab.
2.     Bersaing secara sehat.
3.     Melindungi dan menghargai khalayak, tidak merendahkan agama, budaya, negara, dan golongan, serta  tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.


C.    Privasi Konsumen
            Privasi Konsumen merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain. adapun definisi lain dari privasi yaitu sebagai suatu kemampuan untuk mengontrol interaksi, kemampuan untuk memperoleh pilihan pilihan atau kemampuan untuk mencapai interaksi seperti yang diinginkan. privasi jangan dipandang hanya sebagai penarikan diri seseorang secara fisik terhadap pihak pihak lain dalam rangka menyepi saja.

D.    Multimedia Etika Bisnis
            Etika berbisnis dalam multimedia didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
1.     Akuntabilitas perusahaan termasuk tata kelola perusahaan (goog corporate governance) dalam pengambilan keputusan manajerial.
2.     Tanggung jawab social, yang merujuk pada peranaan bisnis dalam lingkungannya, pemerintah local dan nasional dan kondisi bagi karyawannya.
3.     Kepentingan stakeholder yang mana ditunjukkan kepada kepentingan pemegang saham, CEO dan pelangganm penyuplai, dan kompetitornya.
            Dalam penggunaan multimedia ini agar pelaku bisnis itu beretika tentunya harus ada batasan-batasan aturan yang dibuat oleh pemerintah, seperti larangan penggunaan multimedia yang menjurus kepada SARA, atau yang bersifat membahayakan kepentingan masayarakat umum. Sehingga siapa yang melanggar akan dikenakan sanksi hokum yang berlaku.

E.     Etika Produksi
            Etika adalah seperangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar dan salah. Sedangkan produksi adalah suatu kegiatan menambah nilai guna barang dengan menggunakan sumberdaya yang ada. Jadi, Etika Produksi adalah seperangkat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang menegaskan tentang benar dan salahnya hal hal yang dikukan dalam proses produksi atau dalam proses penambahan nilai guna barang.

F.     Pemanfaatan SDM
            Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
            Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi.
            Dewasa ini, perkembangan terbaru memandang SDM bukan sebagai sumber daya belaka, melainkan lebih berupa modal atau aset bagi institusi atau organisasi. Karena itu kemudian muncullah istilah baru di luar H.R. (Human Resources), yaitu H.C. atau Human Capital. Di sini SDM dilihat bukan sekedar sebagai aset utama, tetapi aset yang bernilai dan dapat dilipatgandakan, dikembangkan (bandingkan dengan portfolio investasi) dan juga bukan sebaliknya sebagai liability (beban,cost). Di sini perspektif SDM sebagai investasi bagi institusi atau organisasi lebih mengemuka.
            Maka Untuk mengatasi masalah ekonomi dalam pemanfaatan sumber daya  tersebut maka solusinya adalah dengan melaksanakan program pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memiliki keahlian yang sesuai dengan lapangan yang tersedia, pembukaan investasi-investasi baru, melakukan program padat karya, serta memberikan penyuluhan dan informasi yang cepat mengenai lapangan pekerjaan. Keberhasilan upaya tersebut di atas, pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan basis dan ketahanan perekonomian rakyat yang kuat dalam menghadapi persaingan global baik di dalam maupun di luar negeri dan pada gilirannya dapat mempercepat terwujudnya kemandirian bangsa.

G.    Etika Kerja
            Etika kerja adalah sistem nilai atau norma yang digunakan oleh seluruh karyawan perusahaan, termasuk pimpinannya dalam pelaksanaan kerja sehari-hari. Perusahaan dengan etika kerja yang baik akan memiliki dan mengamalkan nilai-nilai, yakni : kejujuran, keterbukaan, loyalitas kepada perusahaan, konsisten pada keputusan, dedikasi kepada stakeholder, kerja sama yang baik, disiplin, dan bertanggung jawab.

H.    Hak-Hak Pekerja
·       Hak dasar pekerja dalam hubungan kerja
·       Hak dasar pekerja atas jaminan social dan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja)
·       Hak dasar pekerja atas perlindungan upah
·       Hak dasar pekerja atas pembatasan waktu erja, istirahat, cuti dan lembur
·       Hak dasar untuk membuat PKB
·       Hak dasar mogok
·       Hak dasar khusu untuk pekerja perempuan
·       Hak dasar pekerja mendapat perlindungan atas tindakan PHK

I.       Hubungan Saling Menguntungkan
            Dalam prinsip etika bisnis atau dengan kata lain (Mutual Benefit Priciple) hal ini menuntut agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan satu sama lain. Dalam dunia bisnis, prinsip ini menuntut persaingan bisnis haruslah bisa melahirkan suatu win – win situation atau menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.

J.      Persepakatan Penggunaan Dana
            Pengelola perusahaan mau memberikan informasi tentang rencana penggunaan dana sehingga penyandang dana dapat mempertimbangkan peluang return dan resiko. Rencana penggunaan dana harus benar – benar transpara, komunikatif dan mudah dipahami. Semua harus diatur atau ditentukan dalam perjanjian kerja sama penyandang dana dengan alokator dana.

Sumber:


Minggu, 10 Mei 2015

Soal Soft Skill Bahasa Indonesia 2.



1.      Dalam proses penulisan karya ilmiah ada dua jenis kalimat, yaitu kalimat dan kalimat.
Jelaskan dua istilah tersebut dan beri contoh masing-masing 10 kalimat.
Jawab:
-          Kalimat adalah satuan susunan kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan.
Contoh :
o   Apakah Kamu sedang susah?
o   Saya sedang bermain komputer dirumah.
o   Saya suka melihat foto – foto dihandphone.
o   Mencari jarum di tumpukan jerami sangatlah sulit.
o   Meminum alkohol sangat dilarang oleh agama.
o   Kami sering berkelahi tetapi saling menyayangi.
o   Tulisanmu bagus sekali sehingga yang membacanya kagum.
o   Malas bukan berarti bodoh.
o   Pintar tidak sama dengan cerdas.
o   Mencintai seseorang dengan segenap jiwa dan raga

-          Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat.
Contoh:
o    Aku sayang kamu.
o    Cinta itu tidak buta.
o    Rajin pangkal pandai.
o    Aku sedang membuang sampah.
o    Aku suka mendengarkan lagu.
o    Dia suka makan.
o    Ibu sedang memasak.
o    Adik sedang mandi.
o    Pagi yang indah.
o    Aku baru membeli barang baru.

2.      Penalaran (reasoning) adalah proses mental dalam mengembangkan pikiran logis (nalar) dari beberapa fakta atau prinsip (KBBI,2005:772). Jelaskan pendapat tersebut.
Jawab:
Penalaran (reasioning) adalah suatu proses pola pikir yang berhubungan dengan fakta atau fenomena, atau petunjuk yang menjadi suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematis atau teoritis untuk memperoleh suatu kesimpulan yang sesuai.

3.      Berdasarkan soal no 2. Cari soal logika bahasa dan pembahasannya (sinonim, antonim, analogi, dan silogisme) dari buku teks (bukan hasil browsing di internet).  Masing-masing 10 soal.

4.      Cari artikel koran yang membahas tentang perekonomian Indonesia, tentukan kata sulit dalam artikel tersebut dan cari definisinya dalam kamus.
Jawab:
BERITA KORAN HARI INI, KOMPAS : MEMPERTARUHKAN EKONOMI. Menteri Keuangan Baru Harus Bebas dari Kompromi Politik
Jakarta, Kompas – Kinerja perekonomian Indonesia cukup meyakinkan, sekalipun masih rentan terhadap krisis keuangan yang kini melanda Eropa. Karena itu, pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang dikenal tanpa kompromi ini sangat mempertaruhkan kinerja perekonomian.

Kepergian Sri Mulyani Indrawati sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia di Washington DC, AS, dapat berdampak pada kebijakan pemerintah. Karakter Sri Mulyani yang tidak terlalu kompromistis terhadap keinginan partai politik, karena mengedepankan penyelamatan ekonomi, akan sulit tergantikan.

”(Kepergian Sri Mulyani) Tentu saja akan ada (perubahan) sebab karakternya memang tidak ada duanya. Saya menduga siapa pun yang akan menggantikan Sri Mulyani nanti akan lebih kompromistis dengan partai politik. Semoga saja pengganti Sri Mulyani tetap bisa melanjutkan agenda reformasi birokrasi,” ungkap ekonom Indef, M Ihsan Modjo, di Jakarta, Sabtu (8/5).

Kinerja perekonomian Indonesia sejak tahun 2004, sejak Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan (Menkeu), menunjukkan trend membaik. Pertumbuhan ekonomi tahun ini 5,8-6 persen dan ditargetkan menjadi 7-7,5 persen pada tahun 2014. Peringkat utang Indonesia terus membaik dari B+ menjadi BB pada tahun 2010.

Membaiknya peringkat utang ini diwarnai dengan total utang Indonesia yang meningkat menjadi Rp 1.594,15 triliun. Lepas dari semakin tingginya kepercayaan pihak luar kepada Indonesia, angka utang yang membesar ini memprihatinkan. Namun, dari aspek rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus turun dari 57 persen tahun 2004 menjadi 27 persen tahun 2010. Angka PDB yang naik menjadi Rp 6.253,8 triliun tahun 2010 membuat rasio utang turun.

Oleh karena itu, kepergian Sri Mulyani dan munculnya sosok pengganti yang ”tak pas” bisa menjadi faktor kontraksi bagi kinerja ekonomi ini. Ketua Perhimpunan Bank Umum Nasional Sigit Pramono mengakui, kehilangan figur seperti Sri Mulyani adalah suatu kerugian besar bagi Indonesia mengingat seorang dengan kompetensi dan integritas seperti dialah yang diperlukan Indonesia untuk mengelola perekonomian yang belum benar-benar pulih dari krisis. ”Apalagi kita masih mencermati dampak terpuruknya Yunani dan beberapa negara Eropa lainnya,” kata Sigit.

Maka, untuk menjaga perekonomian tetap berjalan sehat, sudah sepatutnya jika Presiden segera menunjuk pengganti Sri Mulyani dan sekaligus mengisi jabatan Gubernur BI yang sudah lama lowong. ”Membiarkan dua posisi vital di dalam manajemen perekonomian nasional akan menimbulkan ketidakpastian dan berisiko tinggi,” tutur Sigit.

”Dalam kondisi perekonomian dunia seperti sekarang, kita tidak boleh tawar-menawar dengan kepentingan politik. Menkeu harus benar-benar berasal dari kalangan profesional yang memahami ekonomi makro, mikro, dan keuangan dengan baik karena persoalan keuangan negara bukan persoalan main-main. Amerika dan Eropa hampir runtuh karena diterpa masalah keuangan,” papar pengamat pasar uang Farial Anwar.

Pengamat politik J Kristiadi juga khawatir jika pengganti Sri Mulyani adalah seorang menteri yang bisa dimintai deal-deal negosiasi politik yang merugikan masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi yang dihubungi di Taipei, Taiwan, menegaskan kembali agar menkeu yang baru bukan dari partai politik. ”Ini perlu keputusan cepat dari Presiden supaya tidak banyak spekulan dan menimbulkan ketidakpastian bisnis. Apalagi, kita sudah menghadapi perdagangan bebas,” ujar Sofjan.

Soal pentingnya integritas seorang menkeu yang tegas tanpa kompromi politik juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan, Ketua Industri dan Perdagangan Gabungan Pengusaha Jamu Putri K Wardani, Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Gabungan Elektronik Indonesia Yeane Keet, Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia Ambar Polah Tjahyono, Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional Benny A Kusbini, dan Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia Gunadi Sindhuwinata.

Namun, beberapa dari para pengusaha mengaku sulit menyebutkan nama pengganti Sri Mulyani karena persoalan integritas. Mereka hanya menekankan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menetapkan nama menkeu yang baru. Jangan terjadi seperti jabatan Gubernur Bank Indonesia yang sudah setahun ini kosong.

Kalangan pengusaha menyebutkan nama Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Darmin Nasution, Iwan Jaya Azis yang kini sedang bertugas sebagai dosen di Cornell University, Ketua Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum Kuntoro Mangkusubroto, dan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Anwar Nasution.

”Saya kira Darmin Nasution dan Kuntoro Mangkusubroto bisa diusulkan menjadi menkeu yang baru karena keduanya memenuhi syarat-syarat, seperti senior, rekam jejak yang baik, pengalaman di birokrasi pemerintahan, jaringan lokal dan internasional yang luas, pendidikan yang baik, disegani mitra lokal dan internasional, diterima pasar dan investor serta profesional dalam arti nonpartisan,” tutur Ryan.

Tony berpendapat, pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun ini akan dicapai jika figur menkeu baru diterima pasar dan masyarakat. ”Salah satunya adalah Darmin Nasution yang juga menjadi pilar penting dalam reformasi birokrasi saat ia masih menjabat Dirjen Pajak,” ujarnya.

Ihsan berpendapat, Darmin Nasution dan Agus Martowardojo bisa menjadi calon kuat. ”Mereka berani mengatakan ’tidak’,” ujarnya.
Fadhil Hasan memandang, banyak yang bisa menggantikan Sri Mulyani dari segi kemampuan dan pemahaman tentang perekonomian Indonesia. Mungkin yang sulit dicari adalah sosok dengan integritas dan konsistensinya dalam menjalankan reformasi birokrasi.(KUTI/SIE/ANA/TRA/REI/osa/oin/faj)Description: https://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xfa1/v/t1.0-9/28377_394459692490_3860982_n.jpg?oh=31c0945af5cfb0ab63a749dee4029a93&oe=55C848E4&__gda__=1440593309_cd6e379fd2592606608c2506774db28e

Kata yang sulit:
-          Integritas /in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran; -- nasional wujud keutuhan prinsip moral dan etika bangsa dl kehidupan bernegara.
-          kompromistis/kom·pro·mis·tis/ a bersifat kompromi; berlaku sbg orang kompromis: meskipun masih akomodatif -- , anutan mereka yg ketat pd pelaksanaan hukum fikih telah menjadi penghadang penyebaran modernisasi Islam
-          birokrasi/bi·ro·kra·si/ n 1 sistem pemerintahan yg dijalankan oleh pegawai pemerintah krn telah berpegang pd hierarki dan jenjang jabatan; 2 cara bekerja atau susunan pekerjaan yg serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dsb) yg banyak liku-likunya dsb;
-          reformasi/re·for·ma·si/ /réformasi/ n perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dl suatu masyarakat atau negara; -- ekonomi perubahan secara drastis untuk perbaikan ekonomi dl suatu masyarakat atau negara: perdana menteri yg baru telah menyapu kalangan oposisi dan memberikan serangan telak dng -- ekonomi;


5.      Cari artikel ilmiah dalam bidang perbankan. Baca abstraknya dan identifikasi abstrak tersebut ke dalam syarat penyusunan sebuah abstrak.
Jawab:
PENGARUH TRUST DAN LOYALTY TERHADAP PELAYANAN I-BANKING PADA BANK BCA DAN BANK MANDIRI AGUS NECHOLASE

Jl. Fajar Baru Rt.09/06 No.41 Cengkareng Timur Jak-Bar 11730,
Email: vito_nicolas@yahoo.com, a.necholase@gmail.com

ABSTRAK
Kepuasan nasabah merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu manajemen dalam mengelola suatu usaha termasuk perbankan. Penelitian ini melihat sedikit lebih jauh dari hal tersebut, yaitu berkaitan dengan pengaruh Trust dan Loyalty nasabah terhadap services Internet Banking pada dua bank yang dipilih. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, yaitu mengemukakan data berdasarkan teori yang ada. Data penelitian diperoleh dari data primer melalui kuesioner dan data sekunder melalui berbagai literatur yang berkaitan dengan topik penelitian seperti jurnal ilmiah, laporan media cetak, serta artikel lainnya yang ada di perpustakaan. Sedangkan pengolahan data menggunakan statistik deskriptif dan analisis regresi berganda menggunakan SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada bank BCA terdapat pengaruh yang signifikan antara trust dan loyalty terhadap services I-Banking, sedangkan pada bank Mandiri tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara trust dan loyalty terhadap services I-Banking.
Kata kunci: trust, loyalty, I-Banking, BCA, bank Mandiri

Mengidentifikasi kata abstrak:
Pada contoh abstrak diatas, bahwa bisa dilihat kalimat pertama dan kedua merupakan latar belakang dari sebuah penelitian. Kalimat ketiga sampai kalimat kelima merupakan metode penelitian dari sebuah penelitian, sedangkan kalimat akhir merupakan pembahasan dan kesimpulan dari penelitian tersebut.
Kata kunci dalam sebuah abstrak pada umumnya dipilih dari kata yang mewakili atau mencerminkan isi dari uraian yang dituliskan dari sebuah penelitian. Kata kunci biasanya digunakan untuk mempermudah pencarian sebuah karya ilmiah atau penelitian yang membahas hal tersebut.

DAFTAR PUSTAKA:


Sabtu, 04 April 2015

TUGAS 1: BAHASA INDONESIA 2

Berikan informasi yang ringkas dan jelas pada masing – masing pertanyaan berikut:
1.      Jelaskan definisi karya akademik dan berikan contohnya dalam bentuk paragraph.
Jawab:
Karya akademik atau yang biasa disebut karya tulis ilmiah merupakan tulisan yang dibuat seseorang atau peneliti yang sifatnya keilmuan dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, dan penelitian dalam bidang tertentu yang dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Contoh:
Bahaya Merokok.
Rokok sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia terutama bagi perokok aktif. Rokok banyak mengandung zat – zat berbahaya seperti nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hydrogen sianida, amoniak, akrolein, asetlen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, dan masih banyak lagi. Dampak dari bahaya rokok ini menyebabkan serangan jantung, kanker, paru – paru, impotensi, dan gangguan pada janin.

2.      Jelaskan perbedaan karya akademik dan non akademik. Berikan contoh masing – masing yang membedakan kedua bentuk karya di atas.
Jawab:
-        Karya akademik adalah suatu tulisan yang sifatnya keilmuan dan didasari oleh penelitian, pengamatan dan tinjauan dalam bidang tertentu yang dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Contoh:
Banjir merupakan suatu bencana alam yang biasa dialami oleh Indonesia terutama kota Jakarta. Banjir disebabkan oleh hujan yang terus – menerus. Terjadinya hujan pada umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan dari sinar matahari, uap melayang ke udara dan akhirnya terus gerak keatas yang mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga berbentuk awan. Awan – awan yang terbentuk saling bertemu dan membesar yang kemudian menuju ke atmosfir bumi yang suhunya lebih rendah dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Selain hujan yang terus – menerus, penyebab lainnya yaitu buang sampah sembarang dan orang – orang yang tinggal dibantaran kali yang menyebabkan daya tampung air berkurang.

-        Karya non akademik adalah suatu tulisan yang berdasarkan fakta pribadi, tidak memuat hipotesis, bersifat imajinatif, tanpa perlu harus adanya pertanggungjawaban, dan tidak perlu menggunakan bahasa yang baku.


Contoh:
Semua berawal dari pertemuan yang tidak sengaja oleh pasangan dua sejoli ini di tangga sekolah mereka. Adam seorang siswa yang bandel, cuek tapi pintar ini tidak sengaja bertemu seorang siswa yang pendiam dan pemalu yang bernama Sheryl. Rasa penasaran dan kagum yang dirasakan Adam, Adam mencoba mencari info tentang Sheryl ke teman – teman satu sekolah. Setelah mendapatkan informasi tentang Sheryl, Adam memberanikan diri untuk menghubungi Sheryl untuk pertama kali. Hubungan Adam dan Sheryl semakin membaik dan saling mengenal satu sama lain. Perasaan suka dan kagum Adam akan Sheryl semakin membuat yakin Adam untuk menyatakan cintanya kepada Sheryl. Akhirnya, Adam mencoba untuk menyatakan cintanya ke Sheryl dan Sheryl pun menerima cintanya Adam.

Jadi, perbedaan antara karya akademik dan non akademik yaitu karya akademik harus memiliki kajian teori dan yang bersifat ilmiah sedangkan non akademik harus sesuai dengan kejadian yang terjadi atau sesuai dengan fakta

3.      Setiap penulis karya akademik perlu berefleksi tentang pembacanya, yaitu:
a.     Siapa yang membaca karyanya?
b.     Bagaimana cara mengekspresikan gagasannya?
c.      Seberapa banyak teks yang perlu ditulis?
Dari ketiga komponen di atas, jelaskan masing – masing komponen tersebut menurut versi kalian masing – masing.
Jawab:
a.     Target para pembaca dalam karya akademik biasanya adalah para penulis atau peneliti yang ingin melakukan suatu penelitian. Para peneliti yang ingin melakukan penelitian, biasanya membutuhkan beberapa referensi atau jurnal – jurnal terdahulu yang sudah ada.
b.     Cara untuk mengekspresikan gagasannya, kita sebagai para peneliti yang ingin melakukan penelitian bisa dilihat dari bagian abstrak dari referensi yang kita dapat. Bagian abstrak menjelaskan ringkasan suatu uraian yang merupakan gagasan utama dari suatu pembahasan yang akan diuraikan.
c.      Teks yang perlu ditulis dalam karya akademik harus logis, jelas, efektif, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sumber:

Hariwijaya, M. 2008. Pedoman Penulisan Ilmiah Proposal dan Skripsi. Tugu Publisher.

TUGAS 2: BIDANG KAJIAN MANAJEMEN TEORI ANTRIAN

Antrian atau mengantri merupakan suatu kegiatan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari – hari yang disebabkan oleh kebutuhan akan layanan melebihi kemampuan pelayanan atau fasilitas layanan, sehingga pengguna fasilitas yang datang bisa segera dilayani oleh pelayan karena kesibukan dari layanan itu sendiri. Antrian yang terlalu lama akan membuang banyak waktu dan bisa merugikan bagi pihak pelayanan. Selain itu, secara tidak langsung akan mengurangi efesiensi kerja, keuntungan yang sedikit, dan bahkan menimbulkan citra yang kurang baik pada pelanggannya atas lamanya antrian berlangsung.

Antrian yang panjang biasanya kita bisa lihat di bank saat nasabah mengantri di loket teller untuk melakukan transaksi, airport saat calon penumpang ingin melakukan check – in, supermarket saat ingin melalukan pembayaran di loket kasir, dan lain sebagainya. Di tempat cuci mobil : mobil antri untuk dicuci dan masih banyak contoh lainnya. Dampak pemberian layanan yang cepat akan menimbulkan pengeluaran yang lebih bagi organisasi, karena harus menambah fasilitas layanan. Oleh karena itu, layanan yang cepat akan memberikan efek yang positif kepada pelanggan dan pasti dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaan/organisasi.

Sistem antrian atau sering disebut sebagai waiting line theory yang diciptakan pada tahun 1909 oleh seorang matematikawan dan insinyur berkebangsaan Denmark yang bernama A.K. Erlang. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1913 yang dimulai dengan menggunakan konsep dan struktur system antrian sebelum mengembangkan model matematisnya. Teori antrian dirancang untuk memperkirakan berapa banyak langganan menunggu dalam suatu garis antrian, kepanjangan garis tunggu, seberapa sibuk fasilitas pelayanan, dan apa yang terjadi bila waktu pelayanan atau pola kedatangan berubah.

Tujuan dasar teori antrian adalah untuk meminimumkan total dua biaya, yaitu biaya langsung penyediaan fasilitas pelayanan dan biaya tidak langsung yang timbul karena para konsumen menunggu untuk dilayani.

 Manfaat teori antrian adalah dapat membantu kedua belah pihak dalam hal keteraturan atau terkoordinasi dan memaksimalkan keuntungan dalam hal pendataan pengunjung pada perusahaan.



 DAFTAR PUSTAKA 
Subagyo, pangestu, dkk. 1989. Dasar-dasar Operation research (twoth Edition). BPFE.Yogyakarta.
Subagyo, pangestu, dkk. 2000. Dasar-dasar Operation research. BPFE.Yogyakarta.
Levin, Richard I, dkk. 2002. Quantitative Approaches to Management (seventh Edition). McGraw-Hill, inc. New Jersey.
Schroeder, Roger G. 1997. Operation Management. McGraw-Hill, Icn. New Jersey.

http://armandjexo.blogspot.com/2012/04/teori-antrian.html, diakses pada minggu, 22 April 2012.

Sabtu, 15 November 2014

KONSUMEN, KONSUMSI, KONSUMTIF, DAN KONSUMERISME DALAM PERILAKU KONSUMEN


A. Konsumen
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Syarat - syarat konsumen menurut UU PK adalah:
- Pemakai barang dan atau jasa, baik memperolehnya melalui pembelian maupun secara cuma - cuma.
- Pemakaian barang dan atau jasa untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, dan mahluk hidup lain.
- Tidak untuk diperdagangkan.
Sebagai contoh dari konsumen yaitu Ayaha yang membeli televisis untuk ditonton bersama keluarga setiap harinya.

B. Konsumsi
Konsumsi adalah penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ciri - ciri barang konsumsi:
- Barang yang dikonsumsi adalah barang yang dihasilkan oleh manusia.
- Barang yang dikonsumsi ditujukan langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup.
- Barang yang dikonsumsi akan habis atau mengalami penyusutan sedikit demi sedikit sehingga akhirnya tidak dapat digunakan lagi.
Tujuan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup secara langsung. Contoh bentuk konsumsi yaitu setiap harinya pada saat kita lapar kita membutuhkan makanan, bisa berupa nasi, roti, dll, dan itulah yang disebut dengan konsumsi.

C. Konsumtif
Arti kata konsumtif (consumtive) adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. dalam artian luas konsumtif adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah - mewah.
Cahyana (1995) memberikan definisi perilaku konsumtif sebagai tindakan yang dilakukan dalam mengonsumsi berbagai macam barang kebutuhan. Tambunan (2001) mengatakan bahwa perilaku konsumtif menunjukan pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untu barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.
Berdasarkan dari beberapa pengertian telah dikemukakan, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku individu yang ditunjukan untuk mengonsumsi secara berlebihan dan tidak terencana terhadap jasa dan barang yang kurang atau bahkan tidak diperlukan. Perilaku ini lebih banyak dipengaruhi oleh nafsu semata - mata untuk memuaskan kesenangan serta lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Sehingga tanpa pertimbangan yang matang seseorang begitu mudah melakukan pengeluaran untuk macam - macam keinginan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokoknya sendiri.
Faktor - faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif
Menurut Assuari (1987), tingkat keinginan seseorang menempati tingkat yang paling tinggi dalam pembelian, kemudian Assuari menambahkan bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:
1. Pembelian ingin tampak berbeda dari yang lain
Remaja melakukan pembelian atau pemakaian dengan maksud untuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
2. Ikut - ikutan
Seseorang melakukan tindakan pembelian hanya untuk meniru orang lain atau kelompoknya dan mengikuti mode yang sedang beredar.
Sarwono (1994), mengatakan bahwa perilaku konsumtif biasanya lebih dipengaruhi oleh faktor emosional daripada rasio, karena pertimbangan - pertimbangan dalam membuat keputusan untuk membeli atau menggunakan suatu barang dan jasa lebih menitikberatkan pada status sosial, mode dan kemudahan darpada pertimbangan ekonomis. Ia menambahkan bahwa perilaku konsumtif berkaitan dengan proses belajar yang artinya dalam perkembangan individu akan belajar bahwa memperoleh suatu barang dan jasa atau melakukan perbuatan tentunya dapat memberikan kesenangan atau justru perasaan tidak enak.
Contoh konsumtif yaitu pada saat kita sedang jalan - jalan ke mall atau supermarket untuk membeli barang yang kita butuhkan, namun secara tidak sengaja Anda membeli barang lain yang menarik perhatian Anda untuk membelinya walaupun sebenarnya barang tersebut tidak Anda butuhkan.

D. Konsumerisme
Konsumerisme kata dasarnya adalah konsum yang diambil dari bahasa Inggris yaitu consume yang berarti memanfaatkan atau menghabiskan daya guna suatu barang atau jasa.
Konsumerisme itu sendiri merupakan gerakan konsumen (consumer movement) yang mempertanyakan kembali dampak - dampak aktivitas pasar bagi konsumen (akhir). Dalam pengertian lebih luas, istilah kosumerisme dapat diartikan sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha dan negara dan gerakan tidak sekadar hanya melingkupi isu kehidupan sehari - hari mengenai produk harga naik atau kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi konsumer.
Dari berbagai defini di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsumerisme merupakan paham atau gaya hidup yang menganggap barang - barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, gaya hidup yang tidak hemat. Sebagai contoh dari konsumerisme adalah teknologi dan barang - barang eletronik yang ada pada saat ini, yang merupakan barang - barang canggih yang membuat kita harus memilikinya dan tidak dapat hidup tanpa adanya barang tersebut, seperti kemelakatan dan ketergantungan misalnya: handphone.


SUMBER:
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/10/psikologi-konsumen-39/
http://www.wattpad.com/4248059-pengertian-perilaku-konsumen-contoh-kasus